Membentuk Karakter Anak Sholeh & Cerdas

14 Oktober 2026 | 14 Kali Dilihat | SDIT Insan Taqwa Bekasi
Membentuk Karakter Anak Sholeh & Cerdas

*Membentuk Karakter Anak Sholeh & Cerdas*

_by Sobari Abdurrahman. S.Pd.I)*_

Bagaimana membangun karakter anak agar menjadi manusia sholeh, cerdas, dan unggul? Inilah pertanyaan yang sering diajukan orangtua. Idealnya, pendidikan karakter harus dimulai sejak dini, dari sekolah dasar sampai menengah, bahkan para ulama menganjurkan dimulai sejak masih dalam kandungan. Misalnya, ketika Sang Ibu sedang hamil hendaknya sering membaca Al-Qur’an.

Menurut kurikulum saat ini, pembentukan karakter setidaknya mengacu kepada Profil Pelajar Pancasila. Diantaranya, memiliki sikap religius, taqwa, berakhlaq, tahu mana yang benar & salah, rajin sholat, dan mandiri. Jadi bukan mereka yang nilai asesmennya selalu 100.

Di lingkungan sekolah Islam, terlebih SDIT, guru biasanya tidak hanya menekankan pengajaran bersifat kognitif, tetapi juga pendidikan yang bertujuan mempertajam inteletual dan spiritual. Selain dibekali ilmu pengetahuan dan life skill, anak juga dibiasakan banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an, seperti belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an atas kesadaran sendiri. Hasilnya, rata-rata mereka memiliki sifat jujur, bertanggung jawab, berani ngaku salah, tidak nyontek, mengerjakan tugas sendiri, menjaga barang sendiri & barang milik sekolah.

Karakter lain yang makin tumbuh, yakni disiplin, seragam rapi, PR selesai, bereskan alat belajar sendiri tanpa disuruh, hormat & sopan santun ke guru & orang tua, peduli teman & gotong royong, mau berbagi bekal, bantu teman, piket kelas tanpa disuruh, dan tidak mengejek teman.

Dengan banyak interaksi Qur’an, maka nilai-nilai spirual makin berkembang, dan sangat membantu potensi kognitifnya, seperti rasa ingin tahu yang tinggi, kreatif, banyak bertanya "kenapa?", suka baca, berani coba hal baru, tidak takut salah saat menjawab. Sikap positifnya juga muncul, diantarnya percaya diri, berani tampil di depan kelas, berani bilang tidak pada hal buruk, tidak minder walau badan kecil atau nilai belum bagus dan berbagai karakter unggul lainnya.

Allah SWT sudah berjanji, _“Sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”_(QS. Al-Qomar: 17).

Rasulullah juga berpesan, _“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an, dan mengajarkannya.”_ (HR. Bukhori).

Alhasil orangtua sangat bangga jika punya anak pintar otaknya, bener akhlaknya, dan kuat fisiknya. Jika tiga hal ini jalan, maka kualitas akademisnya akan ikut dengan sendirinya, minimal si anak tidak lemot, dan planga-plongo.

*Cara Guru Membentuk Karakter Anak*

Di SDIT Insan Taqwa Bekasi, hanya satu kunci yang dipegang dalam memebentuk karakter murid, yakni profesionalitas guru. Setiap rekrutmen guru pada akhir seleksi akan ditanya, apakah bersedia mengikuti pembinaan rutin tarbiyah Islam setiap pekan. Jika siap, maka dia harus menandatangani surat pernyataan.

Jadi profesionalitas guru dimulai dari komitmennya untuk selalu meningkatkan syaksiyah Islamiyah (kepribadian Islam) yang kokoh dan berwawasan. Kenapa? Karena guru adalah panutan siswa dalam segala hal di atas landasan iman & Islam. Pengamalan Islam sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhmmad SAW, intinya adalah Cinta dan Keteladanan. Karena itu visi pendidikan yang diterapkan di SDIT Insan Taqwa yakni “Mendidik dengan Cinta dan Keteladanan”.

Setidaknya ada 7 pola pembinaan murid yang diterapkan SDIT Insan Taqwa untuk membentuk Karakter siswa:

*1. Guru Harus Jadi Panutan*
• Anak tidak akan jujur kalau gurunya masih suka bohong.
• Mau anak disiplin? Guru harus datang 30 menit sebelum bel masuk berbunyi.
• Mau anak santun? Guru wajib bilang "tolong, maaf, terima kasih" ke OB sekalipun.

*2. Pembiasaan Rutin, Bukan Event*
• Pembentukan Karakter bukan diperoleh dari seminar sehari, tapi pembiasaan rutin setiap hari.
• Membuat ritual harian yang tidak boleh bolong. Sebagaimana SOP yang dituangkan dalam Handook Intaq:
- Pagi, diawali sholat duha, do’a dan murojaah.
- Siang: Sholat dzuhur berjamaah, makan bersama, Gotong Royong kebersihan.
- Pulang: Beresin kelas, salim, dan tertib di jalan.

*3. Aturan Dibuat Bersama, Bukan Dipaksa*
• Hari pertama ajak anak bikin "Kesepakatan Kelas". Misal: "Sepakat tidak boleh mengejek"
• Kalau dilanggar, tanya: "Kamu ingat kesepakatan kita?" Anak jadi punya rasa memiliki, bukan takut guru.

*4. Tegur Perilaku, Jangan Cap Anak*
• "Kamu anak nakal, pemalas!" --- Kalimat yg SALAH
• "Perbuatanmu barusan membuat teman sedih. Bagaimana cara memperbaikinya?" -- Kalimat yg BENAR
• Ini teknik penerapan disiplin positif. Karakter hancur kalau anak sudah merasa dirinya "nakal".

*5. Kasih Peran, Bukan Hanya Tugas*
• Anak yang bandel seringkali butuh dipercaya.
• Yang usil jadi Ketua Keamanan Kelas
• Yang cerewet jadi Juru Bicara Literasi
• Yang lambat jadi Penjaga Waktu
• Ketika dikasih amanah, karakter mandiri & tanggung jawab akan tumbuh.

*6. Kolaborasi Dengan Orang Tua (Segitiga Emas)*
• Guru profesional tidak kerja sendirian, tapi bersinergi dengan orangtua murid
• Buat Grup WA Walimurid, bikin pesan: "Ananda minggu ini latihan jujur. Di rumah mohon jangan dibantu PR-nya ya Bunda, biar kita lihat jujurnya."
• Ingat, Karakter yang dibentuk di sekolah, tapi dirusak di rumah, jadinya NOL alias gagal.

*7. Apresiasi Proses, Bukan Hanya Hasil*
• Jangan cuma puji ranking 1.
• Puji proses: "Ibu lihat kamu tadi sabar antre, itu hebat" atau "Terima kasih sudah berani ngaku salah"
• Anak akan mengulang perilaku yang diapresiasi.

Keberhasilan pola dan program pendidikan karakter tersebut di atas, tentu tidak hanya bergantung kepada guru semata, tetapi sangat erat kaitannya dengan dukungan moril dan kerjasama sinergis orangtua siswa, termasuk pengurus yayasan, pemerintah dan masyarakat pada umumnya.***

_)* Penulis adalah:_
_- Jurnalis media Islam (1990-2004)_
_- Ketua Pelaksana Harian Yayasan Baitul Muttaqin (2002-2005)_
_- Direktur Eksekutif Yayasan Husnayain (2008-2022)_
_- Ketua Yayasan Insan Taqwa Bekasi (2016-2026)_

Kategori

 

Tempat Pendaftaran